Posted by: Yohanes Ferdinand | April 12, 2010

Kejang disertai demam (febrile seizures)


Apakah anak anda pernah mengalami kejang-kejang?apabila pernah mungkin anda sudah tahu pentingnya mengetahui sedikit mengenai kejang ini. Kejang merupakan keadaan yang membutuhkan penanganan segera dan tepat. Kejang pada anak sering disertai demam, atau biasa disebut kejang demam (febrile seizures). Kejang demam adalah keadaan dimana seorang anak atau bayi mengalami kejang disertai dengan peningkatan suhu rektal (anus/lubang dubur) lebih dari 38°C tanpa bukti adanya infeksi pada susunan saraf pusat atau kelainan saraf lainnya. Ada 2 jenis kejang demam :

  1. Kejang demam kompleks : kejang terjadi lebih dari 15 menit, bentuk kejang fokal (hanya sebagian tubuh yang mengalami kejang) atau kejang umum didahului kejang fokal, serta kejang berulang (lebih dari 1x dalam 24 jam)
  2. Kejang demam sederhana : kebalikan dari kejang demam kompleks, terjadi kurang dari 15 menit, bentuk kejang  umum,diikuti oleh periode post-iktal singkat serta kejang tidak berulang

Pada umur berapa sering dijumpai kejang demam? Apakah jenis kelamin berpengaruh?

Kejang demam ini biasanya menyerang anak-anak berusia 3 bulan – 5 tahun. Tapi jarang sekali terjadi pada umur < 6 bulan dan > 3 tahun. Laki-laki sedikit lebih sering terserang kejang demam (1,2-1,4 : 1). Jadi bagi anda yang memiliki balita, anda harus mengetahui gejala-gejala kejang demam ini dan mengetahui bagaimana penanganan yang tepat.

Bagaimana bentuk kejangnya?

Orang tua sering melaporkan bentuk kejang adalah kaku, kelojotan, nafas berhenti, tatapan mata kosong, kebiruan/pucat dan ngompol, diikuti oleh tidur/mengantuk (periode post-iktal singkat).

Apa saja gejalanya?

Gejalanya berupa:
– Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara tiba-tiba)
– Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam)
– Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik)
– Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit)
– Lidah atau pipinya tergigit
– Gigi atau rahangnya terkatup rapat
Inkontinensia (mengompol)
– Gangguan pernafasan
Apneu (henti nafas)
– Kulitnya kebiruan

Setelah mengalami kejang, biasanya:
– akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih
– terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi) – sakit kepala
– mengantuk
– linglung (sementara dan sifatnya ringan)

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat adanya kejang pada seorang anak yang mengalami demam dan sebelumnya tidak ada riwayat epilepsi. Suhu tubuh yang diukur dengan cara memasukkan termometer ke dalam lubang dubur, menunjukkan angka lebih besar dari 38°C.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah :

1. Pungsi Lumbal

Dalam menegakkan diagnosis kejang demam, harus dicari penyebab demam dan menyingkirkan diagnosis meningitis atau ensepalitis. Infeksi virus pada traktus respiratorius atas, roseola, dan otitis media akuta merupakan penyebab paling sering dari kejang demam. Apabila ada keraguan mengenai kemungkinan terjadinya meningitis, maka diindikasikan pemeriksaan cairan serebrospinal melalui pungsi lumbal. Pungsi lumbal harus dilakukan pada anak kurang dari 12 bulan, dianjurkan pada anak 12 sampai 18 bulan terutama pada anak yang mengalami kejang demam kompleks atau terjadi penurunan fungsi sensorik setelah kejang.

2. Pemeriksaan EEG

Tidak dianjurkan pada kejang demam sederhana, tetapi dapat berguna untuk mengevaluasi pasien dengan kejang demam kompleks atau atipik yang merupakan faktor risiko epilepsi di kemudian hari.

3. Pemeriksaan neuroimaging seperti CT scan dan MRI

Juga tidak berguna untuk kejang demam sederhana, tapi dapat dipertimbangkan pada kejang demam berulang dan kejang demam kompleks atau atipik terutama yang memiliki defisiensi neurologis sebelum terjadinya kejang demam.

4. Pemeriksaan gula darah dan elektrolit sebaiknya dilakukan pada pasien dengan riwayat muntah dan diare.

5. Pemeriksaan urin dilakukan bila sumber demam tidak diketahui (mencari infeksi saluran kemih).

Untuk membedakan kejang demam sederhana dengan kompleks kita hanya melihat bedanya yang sudah disebutkan di atas. Nah cukup satu saja kriteria kejang demam kompleks untuk mendiagnosisnya, tapi tidak berlaku sebaliknya. Saya juga baru tahu pas magang hari ke-2, ternyata kalau kejang berulang 2x dalam waktu 24 jam sudah termasuk kejang kompleks, meskipun kejangnya berlangsung <15 menit, dan meskipun kejangnya jenis kejang umum.

Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh pada penyakit ini?

Demam sering disebabkan infeksi saluran nafas atas (faringitis), otitis media, pneumonia, gastroenteritis terutama yang disebabkan bakteri Shigella, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi atau saat demam sudah mulai mereda dapat menyebabkan kejang. Demam setelah imunisasi dapat menyebabkan kejang, imunisasi yang sering menyebabkan kejang demam adalah pertusis dan campak.

Anak saya pernah mengalami kejang tapi tanpa disertai demam, sekarang anak saya kejang lagi dan disertai demam.

Kejang yang disertai demam, tapi sebelumnya sudah pernah kejang tanpa demam bukanlah suatu kejang demam. Juga bila anak anda masih berusia kurang dari 1 bulan mengalami kejang yang disertai demam, bukanlah suatu kejang demam.

Apakah kejang demam sama saja dengan yang disebut epilepsi?

Kejang demam tidak sama dengan epilepsi. Epilepsi adalah kejang yang terjadi tanpa disertai demam, dan baru bisa disebut epilepsi bila terjadi berulang (lebih dari 1x) dan disertai bukti pada pemeriksaan EEG.

Apakah kejang demam ini dapat berulang atau terjadi lagi nantinya?

Mungkin saja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berulangnya kejang demam ini antara lain :

  1. Riwayat kejang demam dalam keluarga.
  2. usia ketika pertama kali terserang kejang demam kurang dari 12 bulan
  3. Suhu rendah saat terjadi kejang.
  4. Kejang berlangsung lebih dari 15 menit.
  5. Riwayat demam yang sering.

Apakah kejang demam dapat mengakibatkan kepintaran berkurang?

Kejang demam yang terjadi berulang dan terjadi dalam waktu yang lama akhirnya dapat mengakibatkan otak mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) sehingga dapat mengurangi tingkat kepintaran anak.

Apakah anak menjadi beresiko untuk mengalami epilepsi?

Resiko anak kejang demam untuk mengalami epilepsi hanya 1% lebih besar dari pada anak yang normal (tidak pernah mengalami kejang demam) dan kejang demam kompleks lebih beresiko menjadi epilepsi dibanding kejang demam sederhana.

Pertolongan pertama bila anak mengalami kejang demam?

  1. Orang tua sebaiknya jangan panik dan tetap mengawasi anaknya, terutama gerakan-gerakan yang terjadi saat anak mengalami kejang untuk membantu dokter menegakkan diagnosis. Ukur suhu tubuh, catat lama kejang.
  2. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau hidung. Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan apapun ke dalam mulut.
  3. Anak yang mengalami kejang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan saat anak itu normal, jadi jangan menahan atau menggendong anak selama kejang berlangsung.
  4. Berikan obat pereda demam , contohnya parasetamol (10mg/kgBB/kali diberikan 4x sehari) atau ibuprofen (5mg/kgBB/kali diberikan 3x sehari). Jangan memberikan aspirin (asam asetil salisilat) untuk demam pada anak-anak karena beresiko terjadinya sindroma reye.
  5. Berikan obat anti kejang (diazepam) bila ada. Obat anti kejang supositoria dimasukan melalui anus. Dosis : 0,5 – 0,75mg/kgBB atau 5mg untuk anak dengan berat badan <10kg atau 10mg untuk >10kg, atau bisa juga diberikan berdasarkan usia (5mg untuk usia < 3 tahun, 7,5mg untuk > 3 tahun). Bila masih kejang juga, maka dapat diberikan satu kali lagi diazepam dengan dosis yang sama (5mg) sebelum dibawa ke rumah sakit. Jangan memberi obat anti kejang jika kejang telah berhenti.
  6. Segera bawa ke rumah sakit, bila kejang telah berlangsung lebih dari 10 menit atau setelah 2x pemberian diazepam kejang masih belum berhenti.

Penatalaksanaan di Rumah sakit?

Penatalaksanaan di rumah sakit, yaitu :

  1. Diazepam intravena 0,5 mg/kgBB dengan kecepatan 1 mg/menit dalam waktu 5 menit.
  2. Bila masih tetap kejang, diberikan fenitoin intravena 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/menit atau < 50 mg/menit.
  3. Bila kejang berhenti, selanjutnya diberikan dosis fenitoin 4-8 mg/kg/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal. Namun, bila kejang masih belum berhenti, pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.
  4. Antipiretik juga diberikan bila saat datang masih demam, tapi sebenarnya ga ada bukti bahwa antipiretik saja dapat mengurangi resiko terjadinya kejang demam. Parasetamol bisa diberikan.
  5. Bila pasien dirawat, bisa diberikan antikonvulsan dengan tujuan untuk mencegah atau menurunkan resiko berulangnya kejang demam. Pada kasus yang saya temukan saat magang, diberikan diazepam 3×2 mg dalam bentuk puyer (0,3mg/kgbb setiap 8 jam).

Pengobatan untuk pencegahan / rumatan / profilaksis?

Tidak semua anak diberikan pengobatan untuk pencegahan. Pertimbangan dilakukannya pengobatan rumatan ini adalah :

  1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
  2. Terjadi pada bayi < 12 bulan
  3. Kejang demam 4 kali/tahun

Obat yang dapat digunakan adalah :

Asam valproat 15-40 mg/kgBB/ hari dibagi 3 dosis (Efek samping asam valproat adalah toksisitas ginjal, trombositopenia, pankreatitis, dan hepatotoksik hati) atau fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis (efek samping adalah gangguan tidur, gangguan perhatian, hiperaktivitas, penurunan ingatan dan gangguan fungsi kognitif).

Pengobatan rumatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan bertahap dalam 1-2 bulan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: