Posted by: Yohanes Ferdinand | April 23, 2010

Pemeriksaan kadar PCA3 pada urin : skrining kanker prostat


Baru baru baru..gw baru tauu..hahaha..mumpung lagi anget, seanget tai ayam, fresh seperti bayfresh..gw baru ujian tadi, jadi masih inget dikit lah tentang prostat ini..Besok kayaknya lupa semua yg udah gw pelajarin buat ujian ahahaha, jadi skarang aja gw bagi-bagi sdikit pengetahuan buat yang belum tahu..hmm..sebenernya yang gw pelajarin buat ujian tadi tuh tentang hiperplasia prostat jinak (Benign Prostate Hyperplasia / BPH), tapi ya mirip-mirip lah ya..hehehe..

Jadi gini, kemarin tuh gw belajar tentang BPH, dan salah satu diagnosa banding dari si BPH ini ya si kanker dari prostat itu sendiri lah ya..meskipun sebenernya dari yang pernah gw baca dan gw inget dari konsulen bedah yang pernah jadi pembimbing gw itu, kalo kanker prostat itu sebenernya ga cocok dijadikan diagnosa banding dari si BPH soalnya kalo kanker prostat itu biasanya ga timbul gejala. Tapi ya kalo dilogikain ya bisa bisa aja sih kata gw mah, kan kanker prostat serta BPH itu sama-sama membesar dan menutup saluran kencing (uretra) kita, brarti bisa aja muncul gejala sulit kencing.

Nah, kalau kita mau mendiagnosis BPH atau kanker prostat itu kan salah satu pemeriksaan penunjangnya dengan memeriksa kadar protein PSA (Prostate Spesific Antigen) dalam darah.

  • Kadar <4 menunjukkan tidak ada kelainan pada kelenjar prostat.
  • Kadar 4-10 menunjukkan ada kemungkinan kanker prostat atau hanya BPH. Kalau ditemukan kadar antara PSA antara 4-10 biasanya kita hitung PSAd, yaitu kadar PSA dibagi dengan ukuran atau volume si prostat yang didapatkan dari USG prostat (TRUS=transrektal ultra sound). Bila nilai PSAd > 0,15 maka kemungkinan kanker prostat lebih besar. Maka dari itu harus dilakukan tindakan biopsi untuk memastikan diagnosis kanker prostat itu. Sedangkan bila kadarnya < 0,15 maka tidak usah dilakukan bipsi.
  • Kadar > 10 maka kemungkinan kanker prostat besar, sehingga tidak perlu nilai PSAd untuk memutuskan apa akan dilakukan biopsi atau tidak.

Pada beberapa orang yang diperiksa kadar PSA dan ternyata hasilnya tinggi (>10) tetapi hasil biosi ternyata tidak menunjukkan hasil kanker, membuat dokter bertanya apakah pasien itu bukan kanker prostat, atau sel-sel kanker tidak terjangkau saat dilakukan pengambilan bahan biospi. Maka dari itu para ahli mencari suatu marker yang lebih spesifik dibandingkan dengan PSA, untuk skrining kanker prostat. Tidak seperti PSA yang dapat meningkat dengan adanya penyakit prostat jinak sampai penyakit dengan malignansi tinggi, PCA3 bersifat spesifik terhadap kanker prostat. Pada pria yang mengalami peningkatan kadar PSA dan biopsi prostat negatif sebelumnya, penentuan kadar PCA3 tampaknya dapat menilai dalam prediksi hasil biospi ulang.

Jadi kesimpulan yang bisa gw tarik adalah, kalau kita curiga kanker prostat, kemudian kita lakukan pemeriksaan PSA ternyata hasil PSA tinggi, tetapi hasil biopsi negatif maka  kita seharusnya memeriksa kadar PCA3. Pemeriksaan ini untuk menentukan pengambilan keputusan apakah perlu dilakukan bipsi ulang atau tidak. Tetapi sayangnya tidak semua fasilitas medis menyediakan pemeriksaan PCA3 ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: