Posted by: Yohanes Ferdinand | September 24, 2011

Osteoartritis (OA) dan Rheumatoid Artritis (RA)


Berhubung genset di rumah dinas saya rusak (sudah 2 minggu lebih tidak ada listrik) maka saya lebih baik melakukan sesuatu yang berguna sambil membuat ngantuk. Karena obat ngantuk yang paling manjur adalah belajar atau membaca. =D .
Karena saya sekarang tugas di puskesmas, maka saya mulai ambil bahan mengenai osteoartritis dari buku pedoman pengobatan dasar di puskesmas dan beberapa hal dari jurnal cermin dunia kedokteran (CDK).
Artritis adalah istilah umum bagi peradangan (inflamasi) dan pembengkakan di daerah persendian. Artritis yang paling banyak dijumpai adalah osteoartritis dengan trauma dan pengausan sendi sebagai faktor penyebab utamanya. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi penyokong berat badan, seperti lutut dan pinggul.
Gejala osteoartritis pada umumnya seperti gejala artritis lain yaitu sendi yang terkena menjadi bengkak, merah, dan nyeri. Lalu apa bedanya dengan rheumatoid artritis?
Bedanya bisa kita lihat dari beberapa faktor, di antaranya dari patogenesisnya, sendi yang biasanya terlibat, dan sisi yang terkena, faktor penyebab, faktor predisposisi, pemeriksaan radiologi, gejala prodromal.
1. Patogenesis
Pada OA, kelainan terletak pada rawan sendi (cartilage), sedangkan RA pada sinovial. Pada proses patogenesisnya, terjadinya penipisan rawan sendi itulah yang menyebabkan gejala peradangan/inflamasi, yaitu pada saat terjadinya pelepasan serpihan rawan sendi ke dalam rongga sendi. Sedangkan pada RA, proses imun lebih berperan dalam terjadinya inflamasi sinovial (sinovitis).
2. Sendi yang terlibat
Seperti yang sudah disebutkan di atas, sendi yang terlibat pada OA adalah sendi-sendi besar penyokong berat tubuh. Pada OA, biasanya sendi yang terlibat hanya pada 1 sisi saja (misalnya lutut kiri saja atau kanan saja). Kebetulan, penulis juga menderita OA dan sendi yang terkena adalah lutut kiri. Sedangkan pada RA, sendi yang biasanya terkena adalah sendi-sendi kecil misalnya sendi pergelangan tangan dan kaki (meskipun perjalanannya bisa juga sampai mengenai sendi besar). Sendi yang terlibat juga biasanya simetris (kanan dan kiri). Jadi misalnya pasien mengeluh nyeri sendi, kita lihat sendi besar atau kecil, kemudian kiri/kanan atau keduanya.
3. Faktor penyebab
Pada OA, kita bisa main logika. Faktor penyebab utama OA adalah trauma/pengausan sendi. Artinya sendi mengalami trauma kecil yang repetitif (berulang). Pada orang yang bagaimana biasanya terjadi trauma kecil repetitif pada sendi itu? Biasanya pada orang yang pekerjaannya tergolong berat seperti sering mengangkat barang-barang berat. Di wilayah kerja puskesmas saya, rata-rata pasien mengalami OA karena sering menjunjung air di ember menggunakan kepalanya. Kemudian medan yang sulit, menambah risiko terjadinya OA. Lalu, dilihat dari sendi-sendi yang terlibat yaitu sendi penyokong BERAT TUBUH juga bisa dipakai logika kita. Pasti orang yang OBESITAS/kelebihan berat badan memiliki risiko untuk mengalami OA. Sedangkan pada RA, faktor imunologi lebih berperan. Jadi misalnya pasien mengeluh nyeri sendi, kita lihat pasien ini gemuk atau tidak. Kalau gemuk, besar kemungkinan pasien tersebut terkena OA. Akan tetapi jika pasien tidak gemuk, kita juga tidak bisa langsung menyingkirkan OA. Kita tanyakan pekerjaan, atau kebiasaan si pasien yang berhubungan dengan angkat beban yang berat. Seperti saya yang bertubuh kecil tetapi terlalu dipaksakan melakukan aktivitas berat (saya pernah mengikuti kegiatan pecinta alam dan mengangkat beban sebanyak 30kg di dalam isi carrier saya, alhasil saya langsung terkena OA).
4. Faktor predisposisi
Dilihat lagi dari penyebabnya yaitu trauma mikro yang repetitif. Maka gejala pada OA yaitu nyeri yang berhubungan dengan GERAK dan menghilang atau berkurang dengan istirahat. Sedangkan pada RA, nyeri biasanya berhubungan dengan cuaca/udara dingin. Pada OA, umur juga merupakan faktor predisposisi. Biasanya pasien berumur di atas 50 tahun. Sedangkan RA lebih muda (35-50 tahun).
5. Pemeriksaan radiologi
Pada pemeriksaan radiologi OA, biasanya menunjukan pelebaran sendi pada tahap awal, osteofit, sklerosis tulang, dan pada tahap lanjut justru yang terlihat adalah penyempitan rongga antar sendi. Karena di puskesmas tidak ada rontgen, maka saya tidak terlalu hapal gambar-gambar artritis. Lagipula jarang sekali pasien yang mau dirontgen hanya karena nyeri-nyeri sendi. =)) .
6. Pemeriksaan fisik
Pada OA belum tentu ada tanda peradangan (sendi bengkak, merah, hangat), ada krepitasi (bunyi gemeretak saat sendi digerakan), ada pembesaran tulang di sekitar sendi (bony enlargement.
Pada RA lebih jelas tanda radangnya, kemudian sendi terlihat kaku saat digerakan secara aktif oleh pasien ataupun secara pasif oleh dokter.
7. Gejala prodromal
Pada OA tidak ada gejala prodromal. Pada RA, ada gejala-gejala seperti badan lemah, hilang nafsu makan sebelum munculnya nyeri sendi. Tetapi menurut saya sulit untuk membedakan OA dan RA dari gejala prodromal ini karena biasanya pasien kurang memperhatikan gejala sebelum nyeri sendi.
8. Lainnya
– Pasien OA biasanya mengeluh nyeri yang tumpul (linu dan pegal) sedangkan RA nyerinya lebih berat dan tajam. Sehingga biasanya pasien OA lebih dulu mencoba mengobati dengan jamu-jamuan, diurut, atau beli obat bebas. Sedangkan pasien RA lebih cepat ke dokter karena nyerinya lebih hebat.
– Nyeri OA lebih dirasakan malam hari, sedangkan RA pada pagi hari disertai kaku sendi yang khas. Biasanya pasien menunjukkan ke dokter dengan menggerak-gerakan sendinya untuk menghilangkan kakunya. Kaku di pagi hari pada RA berlangsung lama (lebih dari sejam).

Untuk tatalaksananya, tidak dibedakan antara OA dan RA (jadi apa gunanya dibedakan OA dan RA?=D ). Dapat digunakan analgesik biasa atau anti inflamasi nonsteroid seperti ibuprofen 3×400 mg dengan waktu yang disesuaikan pada saat periode nyeri yang paling tinggi, atau asam mefenamat 3x500mg. Bila tidak ada tanda peradangan cukup diberikan asmef. Yang harus diperhatikan pada pemberian NSAID adalah pada pasien dengan ulkus peptikum atau orang yang lanjut usia (dalah hal ini biasanya pasien OA), karena dapat memperparah ulkus. Sehingga sebaiknya diberikan bersama dengan ranitidin atau omeprazol atau dengan analog prostaglandin yaitu misoprostol. Alternatif lain yaitu tidak diberikan NSAID (menggantinya dengan prednisolon dosis rendah) setidaknya sampai ulkus sembuh. Kortikosteroid tidak dianjurkan untuk diberikan, kecuali pada kasus yang tidak responsif terhadap analgesik atau NSAID, atau pada kasus yang berat. Bisa diberikan metilprednisolon 5-7,5mg/hari. Dan nasihat untuk pasien : jangan memilih jalan atau jogging sebagai alternatif olah raga, hindari naik turun tangga, hindari berlutut dan jongkok, duduk lebih baik daripada berdiri, dan duduk di kursi tinggi lebih baik daripada di sofa yang pendek. Untuk pasien OA dengan faktor risiko obesitas maka mengurangi berat badan sangat penting.

Ad Maiorem Dei Gloriam – Salam Gloria


Responses

  1. Makasih pak dokter. Mau tanya. Ibuprofen atau asmef yg diberikan hanya mengurangi keluhan nyeri saja. Itupun dalam waktu singkat. Apa ada maksimal lama pemakaian dari keduanya? Untuk perbaikan nya bagaimana pak dojter


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: